Tampilkan postingan dengan label cerita di sekitar saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita di sekitar saya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2009

BERBICARA TENTANG CINTA (KENANGAN MASA LALU)

Kalau berbicara tentang cinta (terhadap lawan jenis), saya mungkin termasuk orang terbodoh kalau menjadi narasumbernya. Kata itu masih asing bagi telinga saya, masih tak jelas bagi mata saya, dan masih buram bagi akal saya. Bahkan sampai umur saya sekarang telah menginjak 20 tahun, saya masih merasa aneh dengan kata tersebut. Tapi, bukan berarti saya tidak pernah mengalami gejolak cinta, karena menurut saya rasa cinta itu adalah fitrah yang telah dianugrahkan oleh Sang Pencipta kepada seluruh makhluq-Nya. Hanya yang jadi masalah adalah saya tidak (cat : belum!) mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Yang pernah saya dapatkan hanyalah cinta monyet, hanya main-main. insyaAllah saya akan berbagi cerita.
Perjalanan ini bermula ketika saya masih SD kelas 4. awalnya saya tidak mengerti apa yang terjadi pada saya pada saat itu. Setiap kali saya bertemu dengan dia, dada saya berdegup kencang sekali, hingga kalau orang ada di samping saya, ia mungkin bisa mendengar gegupan tersebut. Tahu nggak saya siapakah bidadari yang telah menghanyutkan saya? Dia adalah kakak kelas saya sendiri!
Gadis hitam manis ini mempunyai inisial IP. Ketertarikan saya bermula pada saat kami sama-sama mewakili Kalimantan Selatan dalam Festival Teater Anak-Anak, Jakarta. Untungnya gayung bersambut. Itulah pertama kalinya saya menyatakan suka kepada lawan jenis! Tapi yang namanya anak kecil, tetaplah anak kecil.Setelah ia lulus SD,cerita indahnya pun berlalu bagai angin pergi entah kemana
Kemudian waktu saya duduk di kelas 6 SD, tanpa saya sangka-sangka, ada seorang perempuan yang suka sama saya. Inisialnya adalah RN. Ia dari kelas 6b (saya kelas 6a).Pada saat itu ia tidak langsung memberitahukan kepada saya kalau ia suka, ia minta kepada kawannya untuk memberitahukan hal tersebut. Pada saat itulah saya merasa bahwa saya adalah orang tampan sedunia!
Anehnya, saya menolak dia. Alasannya karena saya memang tidak suka dia. Padahal RN termasuk gadis yang mempunyai wajah cantik. Banyak murid-murid lain suka padanya. Tapi mungkin saya adalah pengecualian. Setelah penolakan, hari-hari pun berlalu. Entah kenapa saya jadi malah suka dia. Betapa ruginya saya ketika mengingat penolakan yang saya lakukan dulu. Ketika saya mencoba untuk mendekatinuya, yang saya dapatkan hanya pandangan sinis! Mengerikan! Ah! Perempuan memang sukar untuk dimengerti! Atau saya yang bodoh?
Cerita berlanjut di bangku SMP tahun pertama. Inisialnya adalah AR. Awalnya tak ada yang istimewa, kecuali teman-teman saya yang suka menjodoh-jodohkan (mengolok-olok) saya dengan dia. Saya sih cuek aja. AR pun tak menanggapinya, karena ia tahu bahwa semua itu tak benar.
Pada dasarnya AR adalah tipe gadis yang biasa-biasa saja. Badannya Tidak terlalu ideal , agak kurusan. Tapi kalau lihat wajahnya dengan seksama, akan ditemukan sebuah semburat kecantikan yang tersembunyi. Saya paling suka kalau melihat matanya yang jernih, apalagi kalau melihat dia senyum.
Ah! Waktu memang kejam! Karena waktulah saya menjadi suka gadis kalem dan pendiam ini. padahal saya sudah payah untuk tidak menyukainya. Tapi apa daya. Setiap hari saya bertemu, setiap hari saya berbincang-bincang (tentunya masih sebatas teman), setiap hari saya terbuai dengan rasa malunya itu. Akhirnya olok-olokan kawan-kawan saya dulu menjadi karma, saya memang menyukainya!
Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana saya mengungkapkannya? Kami sudah seperti kawan baik. Apakah yang akan terjadi dengan pengakuan tersebut?
Hingga pada suatu hari, ketika di dalam kelas ada kerja kelompok (kebetulan saya dengan AR satu kelompok), iseng-iseng teman saya bertanya kepada saya tentang AR. Tepat di hadapannya, saya memuji-muji ia, mengatakan kalau ia itu gadis tercantik yang pernah saya lihat, dan…dan…saya menyukainya! Apa reaksi AR? Ia malah senyum-senyum sambil menjelaskan bahwa saya Cuma bercanda. Ah! Rupanya ia menyangka kalau saya main-main. Dengan jantan, saya meyakinkan ia (dan seluruh anggota kelompok) kalau saya pada saat itu tidak main-main dengan perkataan tersebut. Matanya terbelalak mendengar pengakuan tersebut. Selanjutnya, ia malah lari keluar tanpa mengindahkan panggilan saya.
Hari-hari selanjutnya menjadi hari terburuk bagi saya. AR tak pernah lagi menghiraukan saya. Ternyata saya telah menghancurkan persahabatan yang telah kami bangun. Ia lebih senang menganggap saya sahabat, tak lebih dari itu.
Akhirnya saya menarik kembali pengakuan saya tersebut dan meminta ia agar kembali menjadi sahabat saya. Keaadaan pun kembali menjadi normal. Kepaksa dech! Padahal saya benar-benar suka sama dia. Saya punya firasat kalau ia mempunyai kelebihan yang tidak disadari oleh Dirinya sendiri dan orang lain. Saya tidak salah! Setelah beberapa tahun berlalu, saya mendengar kalau ia kini telah menjadi model sebuah majalah. (o alah!). walaupun saya tidak pernah lagi bertemu dengan dia semenjak SMP, saya tahu ai pasti telah berubah menjadi seorang gadis cantik, idaman para kaum adam. Hah…(menghela nafas).
Pada saat saya masuk pondok pesantren, hampir semua yang berbau dengan wanita jauh dari saya, kecuali acil (bahasa banjar, artinya bibi) dapur yang hampir setiap hari saya lihat. Hehe.
Hidup kurang lebih enam tahun di dalam pondok yang semuanya dipenuhi laki-laki, membuat insting saya terhadap perempuan menjadi mati suri. Sehingga kalau saya bertemu dengan perempuan, saya pasti akan menundukkan kepala, sangat berbeda ketika saya masih di SMP. Ada baiknya dan ada buruknya. Baiknya, saya terhindar dari maksiat, zina mata, dan saya lebih konsentrasi dalam belajar. Buruknya, saya jadi tidak bisa lagi berbicara dengan perempuan alias gagap! Sempat saya memiliki kawan perempuan (Hanya kawan lho!), tapi ia malah membenci saya karena saya memperlakukan ia seperti saya berteman dengan teman laki-laki!
Itupun berlanjut sampai saya lulus dan pindah ke Brunei Darussalam. Bahkan hampir satu tahun lamanya sejak kelulusan (saat saya menulis cerita ini), saya masih sulit berkomunikasi dengan wanita. Maka jangan salah yang sampai saat ini saya masih belum punya pacar. Haha! Saya jadi mau bertanya, emang pacaran itu wajib? Tidak bukan?
Banyak kawan saya yang bertanya (bahkan menghina!), kenapa sampai saat ini saya belum mempunyai girlfriend. Yap! Banyak alasan yang bisa saya ungkapkan. Tapi yang pastinya, saya masih memerlukan waktu untuk bisa berkomunikasi dengan perempuan, bukan berarti saya hanya bermaksud mencari ehem ehem, namun lebih kepada arti yang luas, yaitu komunikasi yang terhalang. Apa jadinya kalau saya tidak bisa berkomunikasi dengan perempuan sepanjang hidup saya?
Alhamdulillah, saya masih bisa menikmati hidup melajang alias jomblo. Tak ada yang mengganggu pikiran saya, dan saya lebih bisa berkonsentrasi dalam belajar. Tapi kalau yang mau…..boleh juga!haha! gatel lu. Wassalam.

main billiard



Sumpah! Ini baru pertama kalinya saya main billiard!
Tapi untungnya tidak malu-maluin, lumayan! Hehe…baru pegang, udah dapat masukkan bolanya. Alhamdulillah…

Kawan baik


Andi Tabrani. Saya selalu memanggilnya Bang Andi atau Abah! Beliau selalu menasehati saya. Ketika saya menulis kisah ini, Bang Andi masih menjadi mahasiswa di UBD. Beliau mendapatkan beasiswa untuk menamatkan program PHd-nya program ekonomi lingkungan. Semoga berhasil ya Bang dan kembali ke tanah air yang tercinta, menjadi pemuda harapan bangsa!

Sabtu, 16 Mei 2009

SEMUANYA CANTIK


Hari saya merasa begitu lelah. Saya baru pulang dari university. Sekitar jam 5 petang saya sudah berada di rumah. Tetapi kepenatan tersebut tidak lama bersarang di dalam tubuh. Ketika saya melihat sosok-sosok manis; Alai dan Idang; saya pun menjadi segar kembali.
“Assalamualaikum!” Ucap saya kepada mereka yang sedang santai melihat TV di bilik tengah.
“Wa’alaikum salam!” Mereka serentak menjawab jawaban saya, mencium tangan saya, kemudian duduk lagi.
“Lagi liat apa sih?” Tanyaku penasaran.
“Liat TV, Bang. Sudah tahu tanya lagi Abang ani!” Jawab Alai. Aku pun tersenyum mendengar jawaban tersebut. Idang masih asyik dengan TV. Tidak mengindahkan apa yang kutanyakan tadi. Aku pun duduk di samping mereka. Ternyata saat itu RTB2 (salah satu channel yang ada di TV Brunei) sedang menayangkan life show P2F (Paspot to Fame), suatu acara kontes menyanyi untuk orang Brunei. Masih dalam tahap seleksi.
Kebetulan pada saat itu saya sudah menyaksikan penampilan dua orang perempuan yang menurut saya cara menyanyinya masih standar(maklum, namanya juga masih seleksi). Iseng-iseng saya menanyakan Alai perihal kedua perempuan tadi yang menurut saya belum termasuk kategori penyanyi, tapi masih mempunyai wajah cantik.
“Lai, menurut kamu, yang mana yang lebih cantik, yang awal tadi atau yang setelahnya?”
“hmmm….keduanyalah!” Jawabnya cuek. sedangkan Idang tidak menghiraukan pertanyaan saya. Sepertinya adikku yang satu ini mempunyai konsentrasi yang tinggi ketika menyaksikan TV.
“Lho keduanya? Harus dipilih dong! Di antara keduanya, pasti ada yang lebih baik.” Ucapku menggurui.
“Wajahnya atau suaranya?” Tanyanya lagi.
“Keduanyalah! Wajahnya kah atau suaranya kah. Bandingkan saja!”
“Hmm…keduanya juga lah! Lawa (bagus) jua tuh!” Jawabnya lagi sambil tersenyum . saya mulai kesal dengan jawabannya yang menurut saya bukan suatu jawaban. Dia semakin senang melihat wajah saya yang mulai semwarutan.
“Kenapa harus keduanya? Atau nggak bisa memilih? Kan pasti ada yang lebih cantik, itu menurut Abang,” ucapku sekali lagi dengan wajah yang semakin kupertegas.
“Abang ani, macam mana saya hendak memilih yang mana yang lebih cantik, sedangkan perempuan atu keduanya ciptaaan Allah. Ketika saya ucap yang satu lebih cantik, yang satu jadinya tidak cantik. Jadinya saya menghina ciptaan Allah.” Saya terkejut mendengar jawaban tersebut. Dia melanjutkannya,”kita tidak boleh menghina ciptaan Allah. Jadi cantik keduanyalah!”

يوم الترفيه













Alhamdulillah, ujian pertengahan kursus tiga bulan bahasa arab dan bahasa inggris baru saja selesai pada hari sabtu kemarin, tanggal 25 april 2009. Satu minggu berikutnya, kami bersama para pensyarah (dosen-dosen) Universty of Sultan Syarif Ali (UNISSA) mengadakan yaumu-t-tarfiih, artinya hari rekreasi, day for fun, entertainment’s day.

Tahun ini, acara tersebut diadakan di pantai Muara pada tanggal 2 mei 2009, dari jam 09.00 – 14.00. Sebelum dimulai, acara diresmikan dulu oleh Dr. Kamal, dekkan faculty tamaddun bahasa arab sekaligus merangkap sebagai ketua pengurus yaumu –t – tarfih. ada banyak kegiatan yang berlangsung pada acaranya tersebut, semuanya menyenangkan. Tapi ada satu hal (kata mereka sih!) yang sangat menarik dari acara ini, yaitu kami semua tidak dibolehkan berbicara kecuali dengan bahasa arab dan bahasa inggris. Bagi saya, peraturan seperti ini sih sudah saya jalani sewaktu saya masih mondok dulu. Jadi sepertinya biasa saja.

Sebenarnya ada banyak kegiatan dan perlombaan yang berlangsung meriah pada acara tersebut, namun ada satu perlombaan yang benar-benar memojokkan perlombaan-perlombaan yang lain (khususnya bagi kami, peserta laki-laki), ialah sepakbola pantai (lebih tepatnya futsal pantai, soalnya pada waktu itu saya lihat peraturannya seperti futsal, hanya tempatnya saja di lapangan berpasir)!!

Siuk (bahasa Brunei yang artinya rami [banjar]; meriah, menarik [Ind])! Sememangnya sepakbola sudah menjadi olahraga yang tidak bisa dipisahkan dengan laki-laki (mungkin juga perempuan?). pada saat itu, kami dibagi menjadi empat tim, yaitu tim merah, tim ungu, tim kuning (tim kami), dan tim orange. Ada sedikit rasa kecewa ketika kami hanya bisa menjadi juara kedua pada perlombaan ini, padahal kekalahan kami sangat tipis (kami melawan tim orange pada pertandingan final), Cuma 2 : 3! Weleh-weleh! Lebih sayangnya lagi, pada menit-menit awal pertandingan final, saya harus keluar lapangan karena kaki saya tiba-tiba kejang (bahasa banjarnya kalau tak salah kancang). Pada babak pertama itulah kami ketinggalan 3 : 0. Kawan –kawan bilang, penyebabnya ialah karena saya keluar (ini kata teman-teman lho!). Sebelumnya, pada saat saya yang menjadi defender, pertahanan kami adalah yang paling kuat di antara semua tim (ini pun kata teman-teman lho), ini terbukti dengan hasil pertandingan sebelumnya, kami hanya kebobolan 1 gol! Hebat bukan!

Selanjutnya pada babak kedua, kaki saya sudah agak mendingan. Saya paksakan untuk bermain lagi. Pertahanan…tak jadi masalah lagi (ini kata teman-teman lho!), dan Alhamdulillah kami bisa mengubah skor menjadi 2 :3. tapi bunyi peluit menandakan berakhirnya pertandingan, artinya berakhir pula perjuangan kami. Padahal tinggal sedikit lagi kami bisa menyamakan kedudukan, bahkan mungkin bisa membalikkan keadaan. Tapi tak jadi masalah, toh itu semua hanya permainan, hanya untuk merehatkan otak yang baru saja terkuras selepas ujian. Saya pun ada sedikit rasa bangga karena saya bisa menyumbangkan dua gol untuk tim saya (pertandingan antara tim kuning vs tim merah; skor 4 :1 untuk tim kuning [tim kami]). Menyenangkan!!


Selasa, 21 April 2009

Rasulullah makan nasi? -cerita di sekitar saya-

Tv menampilkan tayangan bersiri dari Negara ginseng, Korea. Aku, Pinong, Alai, dan idang duduk bersimpuh di hadapan hidangan makan malam sambil menyaksikan tayangan siuk tersebut. Relak, tak ada beban, malah dari tadi aku senyum-senyum sendiri saat mengamati tingkah laku adik-adikku ini.

Selesai membaca doa makan, kami pun menyantap hidangan yang sudah tersedia. Ada ayam masak habang (makanan khas banjar) yang konon mama (yang di sini) berusaha keras mempelajari masakan tersebut supaya dapat memanjakan lidahku (begitu pula abah) yang asli orang banjar, ada sayur kangkung, ada telur masak merah, ada buah zaitun, ada abon, dan lainnya. Betapa besar nikmat yang dilimpahkan Allah kepada kami semua.

Aku berkonsentrasi dengan apa yang kumakan. Tak banyak berbicara. Adik-adikku pun tak banyak bercakap. Mata mereka masih tersihir oleh tayangan TV pada saat itu. Tak selang beberapa lama, Aliah setengah berteriak memanggilku, “Bang, si Idang makan berantakan!” aku mengalihkan perhatianku kepada si Idang, sang objek pembicaraan, dan benarlah apa yang dikatakan Alai, nasi berhamburan di samping-samping bawah piringnya. Eh, yang dibicarakan malah cuek bebek. Dengan sikapnya, membuatku jadi geleng-geleng kepala. Alai semakin sebal dengan Idang. Pinong cuma menengok sebentar, lalu meneruskan makannya. Matanya pun kembali menjelajahi layar TV.

Setelah beberapa lama kudiamkan, aku pun mengambil tindakan. Aku berkata kepada Idang, “Idang…..,” ujarku lembut.”makan jangan macam tu. Tak baik! Nasi jadi banyak berhamburan di bawah piring.” Tanpa menolehku, dia memandangi nasi-nasi yang berjatuhan di bawah piringnya. Tak ada tindakan selanjutnya. Dia mendengarkan nasehatku, tapi sepertinya masih belum mengerti apa yang harus dia lakukan. Idang meneruskan makannya.

“Idang….., Rasulullah selalu makan makanannya dengan bersih tak bersisa. Karena ini menandakan kesyukuran Beliau terhadap apa yang diberikan oleh Tuhan. Kalau Idang makan macam tu, nasinya banyak terbuang, artinya Idang tidak bersyukur,” jelasku. Idang menghentikan makannya. Pelan-pelan dia mulai membersihkan nasi-nasi yang berjatuhan. Dikumpulkannya nasi-nasi tersebut di satu tempat. Lebih bersih dari yang tadi.

Pinong akhirnya tertarik dengan perbincangan yang berlangsung tadi. TV kehilangan satu penontonnya. Alai bersuka cita seakan-akan ia menang suatu perlombaan. Aku menambahkan lagi, “Idang…..Jika makan nanti, kalau bisa jangan berhamburan lagi ya! Karena dikatakan di dalam sekumpulan nasi yang kita makan, hanya ada satu yang ada berkahnya. Nah! Apakah Idang tahu kira-kira yang mana yang ada berkahnya?” tak ada jawaban. Sepertinya ada rasa bersalah menghinggapinya. Matanya liar memandangi nasi yang ada di depannya. Rupanya dia mencari nasi berkah yang kumaksud tadi.

“Makan dulu lah Dang! Intinya makan jangan berhamburan lagi ya! Supaya nasi yang beberkah tersebut Idang dapatkan,” ujarku. Keadaan kembali tenang. Kami melanjutkan acara makan. Tiba-tiba Pinong bertanya kepadaku,” Bang…..zaman dulu, Rasulullah makan nasi jua kah?”

Sungguh aku terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Aku sudah salah sangka dengan yang anak yang satu ini. kusangka dia acuh tak acuh dengan perbincangan yang telah berlangsung. Rupanya otaknya terus berputar memikirkan keterangan-keterangan yang yang kuberikan untuk Idang. Beberapa saat aku sempat terdiam, lebih tepatnya aku terkejut dengan pertanyaan yang tidak kubayangkan sebelumnya. Bahkan hati kecilku pun juga berkata,’iya juga ya! Masa Nabi makan nasi?’ begitu celotehnya.

Tapi betapa malunya aku jika tidak bisa menjawabnya. Maka kujawab sekenanya saja tapi meyakinkan.

“Begini Pinong, ini bukan berkenaan dengan nabi makan nasi atau tidak, tapi lebih kepada makanan yang berantakan dan berjatuhan, atau tentang bagaimana kita mensyukuri makanan yang diberikan Tuhan kepada kita.”

“Kata Abang tadi, di antara nasi-nasi yang kita makan, hanya ada satu yang ada berkahnya. Macam mana tu? Makanya saya tanya apa Rasulullah makan nasi juakah?” Dia kembali bertanya.

“Tentu semua orang telah mengetahui bahwa tidak ada nasi pada zaman Rasulullah, dan itu hingga masa sekarang, Pinong! Kenapa? Karena nasi bukanlah makanan pokok untuk daerah Timur Tengah tempat lahirnya rasulullah! Mereka makannya roti. Nah! Pada zaman Rasulullah pun makannya roti juga. Maksud abang tadi begini Pinong, kesyukuran! Ingat! Kesyukuran yang kita miliki! Nabi selalu menghabiskan makanan yang dimakannya. Oke! Kita misalkan di sini Beliau makan roti, dikatakan bahwa Beliau meyakini bahwa rempahan-rempahan roti pun bisa jadi adalah berkah dari satu bentuk roti, artinya mau tidak mau Beliau harus makan seluruh roti tanpa ada sisa jika mau mendapatkan berkah. Itulah yang Abang maksud! Jika itu diumpamakan adalah nasi, mungkin hanya salah satu dari nasi yang kita makan yang ada berkahnya,” jelasku panjang lebar. Tak tahu apakah keterangan yang kuberikan ini benar atau salah pada saat itu. Aku memang harus mengakui masih minimnya pengetahuanku.

“oh begitu ya….,” hanya itu tanggapannya. Jelas! Sangat jelas sekali ketidakpuasan akan keterangan yang kusampaikan padanya tadi. Masih ada yang mengganjal. Kurasa dia tidak mau menyulitkan abangnya yang juga saat itu kebingungan mencari jawaban.

Sikap kritis Ali memang suatu keistimewaan tersendiri yang dimilikinya. Dia selalu tidak menerima suatu pernyataan jika hal tersebut masih terasa mengganjal di hatinya. Dia tidak akan menerimanya mentah-mentah sebelum jelas di kepalanya.

Mungkin karena keterkejutanku akan pertanyaan tersebut, makanya jawabanku yang kusampaikan sangatlah tidak memuaskan. Namun beberapa hari setelahnya, aku kembali menjelaskan perihal tersebut. Dan aku baru menyadari ada yang salah dari keteranganku kepada Idang maupun kepadanya sebelumnya. Alhamdulillah, dia paham.

Anda pun mungkin sekarang sudah tahu jawabannya.

Kawan baik






























Nih perkenalin! Teman saya, namanya Syamsuddin. Asli orang arab. Ngambil master di UNISSA jurusan Usuluddin. Di sini pun kami sama-sama berjuang. Seperti saya, dia pun tidak mendapat jatah makan alias kupon makan (biasanya disediakan untuk international student), makanya kami sama-sama masak. Dia punya rice cooker, saya punya beras, nah! Masak deh!

Trus….perempuan-perempuan cantik itu? Oh! itu student JIS (Jerudong International School), setingkat SMA kalau di Indonesia. Kebanyakan yang sekolah di sana adalah anakorang asing yang bekerja di Brunei Darussalam, tapi ada juga lah yang asli orang Brunei.

Mereka berdua adalah dua kakak beradik yang datang ke acara pertemuan orang-orang Padang di UBD. Pertemuan orang-orang Padang? Apa hubungannya dengan mereka ya? Oh! ternyata Bapanya adalah Arab-Padang (kalau ibunya asli Padang), makanya mukanya seperti orang arab. Saya pun tersenyum sendiri ketika menanyakan nama mereka tapi dengan memakai bahasa arab, eh…malah tidak bisa jawab. Ternyata muka saja arab, bicara bahasa arab pun tak bisa!

Entah kenapa pada saat itu si Sammy (panggilan si Syamsuddin) minta diphotokan bersama mereka. katanya sih cantik. Ha ha! Ingat-ingat tu istri di rumah! Sudah punya istri masih suka liat perempuan lain, pantesnya tu orang untuk saya! Eits! Astaghfirullah! Udah! Yang penting dua anak cantik tersebut (saya lupa minta namanya) mau diphoto bersama. Pikir-pikir, daripada si Sammy enak sendiri, mendingan saya juga ikut photo. Makanya tuh, ada yang ikut nimbrung.

Tapi kalau dilihat-lihat, dua perempuan ini cantik juga ya.


Senin, 20 April 2009

Pertolongan itu.....




Perempuan yang begitu syahdu itu adalah Hajjah Rosinah. Beliau adalah pengurus anak-anak international student. Saya masih ingat ketika saya menghadapi masalah pembayaran sebelum ikut exam, beliau adalah orang yang paling gigih membantu saya, walaupun sebenarnya beliau sudah tahu bahwa bayaran yang dikenakan kepada saya memang sudah tertera sangat jelas di buku petunjuk bagi the student of non-gruaduating program (pada saat itu saya masih the student of non-gruaduating program), namun beliau tidak ingin mengecewakan saya. Makanya beliau menghubungi bagian-bagian yang terkait untuk keringanan bayaran.
Walaupun pada akhirnya usaha beliau tersebut tidak berhasil, tapi saya tetap ikut exam (terpaksa deh bayar!), tapi saya tetap menghargai usaha beliau. Mungkin karena toleransi beliau yang begitu besar kepada orang lain menjadi alasan kenapa beliau dijadikan tempatnya mengadu para student non-Brunei.
Sedangkan laki-laki yang berada di sampingnya itu bernama Abdul Halim. Pada saat itu, dia sedang mengambil Master program Bahasa Melayu. S1-nya ngambil di USU (Universitas Sumatra Utara). Kalau bicara tentang Bang Halim (Saya sudah menganggap dia seperti saudara saya sendiri), maka saya seharusnya patut mengucapkan beribu terima kasih kepadanya, karena selain (tentunya) orang tua saya, maka orang yang paling berjasa dalam memasukkan saya ke university adalah dia.
Saya masih ingat ketika saya pertama kali datang ke UBD, saya tak tahu apa-apa. Dialah yang mengarahkan serta memberitahukan saya tentang apa yang harus saya lakukan. Dialah yang susah payah kesana kemari untuk membuat saya diterima di UBD. Saya tahu, dia tidak ingin saya pulang dengan tangan hampa. Kalau saya ingat masa-masa itu, mungkin air mata ini akan mengalir. Saya benar-benar terharu melihat kerja kerasnya!
Sampai sekarang pun dia masih membimbing saya. Ketika saya mempunyai masalah (khususnya masalah di kuliah), maka dialah orang yang pertama kali saya hubungi.
Bang Halim adalah sosok orang yang tidak suka melihat orang di sekitarnya susah. Dia suka menolong orang walaupun itu membuatnya menjadi susah sendiri. Satu hal yang saya suka darinya, dia tak pernah terlihat sedih! Seperti tak ada masalah di hari-hari yang dilaluinya! Sangat dan sangat ceria! Inilah kelebihan sosok yang murah senyum ini.
Bayangkan! Dia rela membagi jatah makannya (dia dapat kupon makan; beasiswa) kepada saya ketika dia tahu bahwa saya tak ada kupon makan. Dia membaginya hanya untuk orang yang baru dikenalnya dan tak tahu asal-usulnya. Tetapi itulah Bang Halim, ia tidak bisa melihat orang kesusahan.
Selain itu, Bang Halim adalah mahasiswa cemerlang Indonesia yang ada di UBD. Nilainya tidak pernah jatuh, selalu excellent! Otak encer! Ketika saat santai, mungkin orang akan menyangka dia adalah orang yang biasa saja, tapi jangan ditanya kalau dia sudah serius bicara, semua orang lewat sama dia! Calon master dilawan!
Semoga Allah mengabulkan seluruh doanya. Semoga dia menjadi calon pemimpin masa depan yang telah ditunggu oleh Negara kita Indonesia. Semoga dia menjadi orang yang sukses. amin

Kelas Bahasa Arab (University of Brunei Darussalam)

Ini adalah fhoto saat saya berada di dalam kelas bahasa arab UBD. Saya sangat senang sekali karena saya bertemu dengan orang yang baik seperti mereka. walaupun hanya sebentar berada dalam satu kelas (kurang lebih 7 bulan, karena saya pindah ke UNISSA), tapi saya merasa beruntung sekali bisa berkenalan dengan mereka. bahkan sampai saat ini, merekalah (kelas bahasa arab [IPI]) inilah yang paling memperhatikan saya dan menolong saya di kala susah.